Jumat, 06 Mei 2016

Laporan Observasi

HASIL LAPORAN OBSERVASI MENGENAI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS PADA ANAK TUNA GRAHITA
 DI SKH NEGERI 1 KOTA SERANG
Diajukan untuk memenuhi tugas pada Mata Kuliah Fonologi
Dosen Pengampu Dr. Asep Muhyidin, S.Pd.,M.Pd.
                                             




Vina Zakiah
2222150053
II B

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2016




DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR .................................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang........................................................................................... 1
1.2  Rumusan Masalah....................................................................................... 2
1.3  Tujuan Penulisan......................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Tuna Grahita ............................................................................ 3
2.2 Karakteristik Anak Tuna Grahita............................................................... 4
2.3 Klasifikasi Anak Tuna Grahita................................................................... 5
2.4 Pendidikan Bagi Anak Tuna Grahita......................................................... 6
2.5 Laporan Data Observasi............................................................................. 9

BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ................................................................................................ 15
3.2 Saran .......................................................................................................... 16

LAMPIRAN GAMBAR ............................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA







KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini. Akhir kata berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.

Serang, 20 April 2016


Penulis






BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
            Semua manusia dianugerahi Allah SWT mempunyai kemampuan berbicara atau bertutur, kecuali bagi seseorang yang mempunyai “kekhususan”, misalnya seseorang yang mengalami ketunaan rungu, ketunaan wicara, atau ketunaan grahita. Berbicara merupakan salah satu bentuk komunikasi yang paling efektif. Kemampuan berbicara atau bertutur ini diperolehnya secara berjenjang sesuai dengan tingkatan usianya, yaitu sejak bayi, anak-anak, remaja, dan dewasa. Kemampuan manusia mengucapkan bunyi pun berbeda antara satu dengan yang lain. Interaksi dengan seseorang disekitarnya atau disekelilingnya akan memengaruhi pemerolehan bunyi bahasanya.
            Pemahaman masyarakat umum mengenai anak berkebutuhan khusus masih sangat minim, kebanyakan mereka menganggap bahwa anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang tidak memiliki kemampuan apapun. Salah satu dari mereka adalah anak tunagrahita. Anak tunagrahita adalah kondisi anak yang kecerdasannya jauh dibawah rata – rata yang ditandai oleh keterbatasan intelegensi, dan ketidak cakapan dalam interaksi sosial yang menyebabkan sulitnya mengucapkan bunyi-bunyi bahasa dalam komunikasi. Pemerolehan bunyi bahasa ini dapat dikaji secara ilmiah mengenai bunyi-bunyi yang dihasilkan melalui kajian fonologi pada anak tunagrahita atau dikenal juga dengan istilah keterbelakangan mental karena keterbatasan kecerdasannya sulit untuk mengkuti program pendidikan disekolah biasa secara klasikal.
            Namun walaupun begitu anak tunagrahita juga memiliki hak yang sama dengan anak normal lainnya. Salah satu hak itu adalah mendapatkan pendidikan. Karena selain memiliki hambatan intelektual, mereka juga masih memiliki potensi yang dapat dikembangkan sesuai dengan kapasitas yang dimiliki oleh mereka dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Hal tersebut diatur dalam UUD’45 pasal 31 ayat 1, yang menyatakan bahwa “Tiap-tiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan”. Hal tersebut lebih diperjelas lagi dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 5 ayat 2, dan pasal 33 ayat 1, menyatakan bahwa warga Negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, dan atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. Oleh karena itu sangat diperlukan pendidikan khusus bagi anak tunagrahita.
B. Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, rumusan masalah yang didapat adalah sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud dengan anak tunagrahita?
2.      Bagaimana karakteristik anak tunagrahita?
3.      Bagaimana klasifikasi pada anak tunagrahita?
4.      Bagaimana pendidikan pada anak tunagrahita?

C. Tujuan
            Adapun maksud dan tujuan penulis dalam menyusun makalah ini tiada lain adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui pengertian dari anak tunagrahita.
2.      Untuk mengetahui karakteristik anak tunagrahita.
3.      Untuk mengetahui klasifikasi pada anak tunagrahita.
4.      Untuk mengetahui pendidikan pada anak tunagrahita.










BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Tuna Grahita
            Istilah untuk anak tunagrahita bervariasi, dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama lemah pikiran, terbelakang mental, cacat grahita dan tunagrahita. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Mentally Handicaped, Mentally Retardid. Anak tunagrahita adalah bagian dari anak luar biasa. Anak luar biasa yaitu anak yang mempunyai kekurangan, keterbatasan dari anak normal. Sedemikian rupa dari segi: fisik, intelektual, sosial, emosi dan atau gabungan dari hal-hal tadi, sehingga mereka membutuhkan layanan pendidikan khusus untuk mengembangkan potensinya secara optimal.
            Tunagrahita adalah anak yang mengalami hambatan dan keterbelakangan mental, jauh di bawah rata- rata. Gejalanya tak hanya sulit berkomunikasi, tetapi juga sulit mengerjakan tugas-tugas akademik. Ini karena perkembangan otak dan fungsi sarafnya tidak sempurna. Anak-anak seperti ini lahir dari ibu kalangan menengah ke bawah. Ketika dikandung, asupan gizi dan zat antibodi ke ibunya tidak mencukupi. Menurut Efendi anak tunagrahita adalah “anak yang mengalami taraf kecerdasan yang rendah sehingga untuk meniti tugas perkembangan ia sangat membutuhkan layanan pendidikan dan bimbingan secara khusus”.
Definisi lain yang diterima secara luas dan menjadi rujukan utama ialah definisi yang dirumuskan oleh Grossman yang secara resmi digunakan AAMD (American Association of Mental Deficiency) yaitu ketunagrahitaan mengacu pada fungsi intelektual umum yang secara nyata (signifikan) berada di bawah rata-rata (normal) bersamaan dengan kekurangan dalam tingkah laku penyesuaian diri dan semua ini berlangsung pada masa perkembangan. Menurut Hj.T.Sutjihati Somantri, anak tunagrahita atau terbelakang mental merupakan kondisi dimana perkembangan kecerdasannya mengalami hambatan, sehingga tidak mencapai perkembangan yang optimal. Sedangkan menurut Bratanata, seseorang dikategorikan berkelainan mental subnormal atau tunagrahita, jika anak tuna grahita memiliki tingkat kecerdasan yang sedemikian rendahnya (di bawah normal), sehingga untuk meniti tugas perkembangannya memerlukan bantuan atau layanan secara spesifik, termasuk dalam program pendidikannya. Jadi, anak tunagrahita adalah anak yang mempunyai kekurangan atau keterbatasan dari segi mental intelektualnya, dibawah rata-rata normal, sehingga mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik, komunikasi, maupun sosial, dan karena memerlukan layanan pendidikan khusus.
2.2 Karakteristik Anak Tuna Grahita
Menurut Depdiknas (2003) mengemukakan bahwa karakteristik anak tunagrahita yaitu penampilan fisik tidak seimbang, tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai dengan usianya, perkembangan bicara/bahasanya terhambat, kurang perhatian pada lingkungan, koordinasi gerakannya kurang dan sering mengeluarkan ludah tanpa sadar. Selain itu ada beberapa pendapat dari orang ahli dari seluruh dunia, yaitu:
            Menurut James D Page yang dikutip oleh Suhaeri H.N (Amin: 1995) menguraikan karakteristik anak tunagrahita sebagai berikut:
1.      Kecerdasan. Kapasitas belajarnya sangat terbatas terutama untuk hal-hal yang abstrak. Mereka lebih banyak belajar dengan cara membeo (rote-learning) bukan dengan pengertian.
2.      Sosial. Dalam pergaulan mereka tidak dapat mengurus, memelihara, dan memimpin diri. Ketika masih kanak-kanak mereka harus dibantu terus menerus, disingkirkan dari bahaya, dan diawasi waktu bermain dengan anak lain.
3.      Fungsi-fungsi mental lain. Mengalami kesukaran dalam memusatkan perhatian, pelupa dan sukar mengungkapkan kembali suatu ingatan. Mereka menghindari berpikir, kurang mampu membuat asosiasi dan sukar membuat kreasi baru.
4.      Dorongan dan emosi. Perkembangan dan dorongan emosi anak tunagrahita berbeda-beda sesuai dengan tingkat ketunagrahitaan masing-masing. Kehidupan emosinya lemah, mereka jarang menghayati perasaan bangga, tanggung jawab dan hak sosial.
5.      Organisme. Struktur dan fungsi organisme pada anak tunagrahita umumnya kurang dari anak normal. Dapat berjalan dan berbicara diusia yang lebih tua dari anak normal. Sikap dan gerakannya kurang indah, bahkan di antaranya banyak yang mengalami cacat bicara.
            Menurut The American Association on Mental Deficiency (AAMD, 1983) bahwa seseorang anak dikategorikan tunagrahita apabila memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut: (1) fungsi intelektual umum (kecerdasannya) di bawah rata-rata secara sigifican (jelas, nyata), ditafsirkan mempunyai tingkat kecerdasan (IQ) 70 atau di bawahnya, (2) mengalami hambatan dalam adaptasi tingkah laku sesuai tuntutan budaya dimana ia tiinggal, dan (3) terjadinya selama periode perkembangan mental, yaitu sampai usia kronologis 18 tahun. Dengan demikian, jika anak itu tidak memiliki ketiga karakteristik tersebut atau hanya kurang sedikit dari anak lain yang normal, maka tidak termasuk tunagrahita.
            Menurut AAMR (1992) tunagrahita merujuk kepada fungsi intelektual umum yang berada di bawah rata-rata secara signifikan (merujuk kepada hasil tes inteligensi individu, berarti skor IQ dua standard deviasi atau lebih di bawah rata-rata) yang berkaitan dengan hambatan dalam perilaku adaptif (merujuk kepada: derajat dimana terpenuhi standard individu dari independensi personal dan respansibilitas sosial yang diharapkan dari umur dan kelompok budaya, atau merujuk kepada 10 keterampilan adaptif, yaitu: komunikasi, merawat diri, kehidupan keseharian, keterampilan sosial, penggunaan komunitas, pengarahan diri, kesehatan dan keamanan, akademik fungsional, waktu luang, dan karya) yang terjadi selama periode perkembangan (dari lahir sampai usia 18 atau 22 tahun).
2.3  Klasifikasi Anak Tunagrahita
            Ada beberapa klasifikasi anak Tunagrahita yang di ukur melalui IQ, yaitu sebagai berukut:
1.      Tunagrahita Ringan (IQ 51-70)
Anak yang tergolong dalam tunagrahita ringan memiliki banyak kelebihan dan kemampuan. Mereka mampu dididik dan dilatih. Misalnya, membaca, menulis, berhitung, menjahit, memasak, bahkan berjualan. Tunagrahita ringan lebih mudah diajak berkomunikasi. Selain itu kondisi fisik mereka tidak begitu mencolok. Mereka mampu berlindung dari bahaya apapun. Karena itu anak tunagrahita ringan tidak memerlukan pengawasan ekstra.
2.      Tunagrahita Sedang (IQ 36-51)
Tidak jauh berbeda dengan anak tunagrahita ringan. Anak tunagrahita sedang pun mampu diajak berkomunikasi. Namun, kelemahannya mereka tidak begitu mahir dalam menulis, membaca, dan berhitung. Tetapi, ketika ditanya siapa nama dan alamat rumahnya akan dengan jelas dijawab. Mereka dapat bekerja di lapangan namun dengan sedikit pengawasan. Begitu pula dengan perlindungan diri dari bahaya. Sedikit perhatian dan pengawasan dibutuhkan untuk perkembangan mental dan sosial anak tunagrahita sedang.
3.      Tunagrahita Berat (IQ dibawah 20)
Anak tunagrahita berat disebut juga idiot. karena dalam kegiatan sehari-hari mereka membutuhkan pengawasan, perhatian, bahkan pelayanan yang maksimal. Mereka tidak dapat mengurus dirinya sendiri apalagi berlindung dair bahaya. Asumsi anak tunagrahita sama dengan anak Idiot tepat digunakan jika anak tunagrahita yang dimaksud tergolong dalam tungrahita berat.
2.4  Pendidikan Bagi Anak Tunagrahita
            Anak tunagrahita sangat memerlukan pendidikan serta layanan khusus yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Ada beberapa pendidikan dan layanan khusus yang disediakan untuk anak tunagrahita, yaitu:
1.      Kelas Transisi.
Kelas ini diperuntukkan bagi anak yang memerlukan layanan khusus termasuk anak tunagrahita. Kelas transisi sedapat mungkin berada disekolah reguler, sehingga pada saat tertentu anak dapat bersosialisasi dengan anak lain. Kelas transisi merupakan kelas persiapan dan pengenalan pengajaran dengan acuan kurikulum SD dengan modifikasi sesuai kebutuhan anak.
2.      Sekolah Khusus (Sekolah Luar Biasa bagian C dan C1/SLB-C,C1).
Layanan pendidikan untuk anak tunagrahita model ini diberikan pada Sekolah Luar Biasa. Dalam satu kelas maksimal 10 anak dengan pembimbing/pengajar guru khusus dan teman sekelas yang dianggap sama keampuannya (tunagrahita). Kegiatan belajar mengajar sepanjang hari penuh di kelas khusus. Untuk anak tunagrahita ringan dapat bersekolah di SLB-C, sedangkan anak tunagrahita sedang dapat bersekolah di SLB-C1.
3.      Pendidikan Terpadu.
Layanan pendidikan pada model ini diselenggarakan di sekolah reguler. Anak tunagrahita belajar bersama-sama dengan anak reguler di kelas yang sama dengan bimbingan guru reguler. Untuk matapelajaran tertentu, jika anak mempunyai kesulitan, anak tunagrahita akan mendapat bimbingan/remedial dari Guru Pembimbing Khusus (GPK) dari SLB terdekat, pada ruang khusus atau ruang sumber. Biasanya anak yang belajar di sekolah terpadu adalah anak yang tergolong tunagrahita ringan, yang termasuk kedalam kategori borderline yang biasanya mempunyai kesulitan-kesulitan dalam belajar (Learning Difficulties) atau disebut dengan lamban belajar (Slow Learner).
4.      Program Sekolah Di Rumah
Progam ini diperuntukkan bagi anak tunagrahita yang tidak mampu mengkuti pendidikan di sekolah khusus karena keterbatasannya, misalnya: sakit. Proram dilaksanakan di rumah dengan cara mendatangkan guru PLB (GPK) atau terapis. Hal ini dilaksanakan atas kerjasama antara orangtua, sekolah, dan masyarakat.
5.      Pendidikan Inklusif
Sejalan dengan perkembangan layaan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus, terdapat kecenderungan baru yaitu model Pendidikan Inklusif. Model ini menekankan pada keterpaduan penuh, menghilangkan labelisasi anak dengan prinsip “Education for All”. Layanan pendidikan inklusif diselenggarakan pada sekolah reguler. Anak tunagrahita belajar bersama-sama dengan anak reguler, pada kelas dan guru/pembimbing yang sama. Pada kelas inklusi, siswa dibimbing oleh 2 (dua) orang guru, satu guru reguler dan satu lagu guru khusus. Guna guru khusus untuk memberikan bantuan kepada siswa tunagrahita jika anak tersenut mempunyai kesulitan di dalam kelas. Semua anak diberlakukan dan mempunyai hak serta kewajiban yang sama. Tapi saat ini pelayanan pendidikan inklusif masih dalam tahap rintisan.
6.      Panti (Griya) Rehabilitasi
Panti ini diperuntukkan bagi anak tunagrahita pada tingkat berat, yang mempunyai kemampuan pada tingkat sangat rendah, dan pada umumnya memiliki kelainan ganda seperti penglihatan, pendengaran, atau motorik. Program di panti lebih terfokus pada perawatan. Pengembangan dalam panti ini terbatas dalam hal :
a.      Pengenalan diri.
b.      Sensorimotor dan persepsi.
c.      Motorik kasar dan ambulasi (pindah dari satu tempat ke tempat lain).
d.     Kemampuan berbahasa dan dan komunikasi.
e.      Bina diri dan kemampuan sosial.

            Di Indonesia perkembangan pendidikan luar biasa atau pendidikan khusus dimulai sebelum masa kemerdekaan yaitu dengan berdirinya, untuk pertama kali, Lembaga Penyandang Cacat Tunanetra di Bandung pada tahun 1901. Pada 1927 dibuka sekolah bagi anak tunagrahita di kota yang sama dan pada saat yang hampir bersamaan didirikan sekolah khusus bagi anak tunarungu pada 1930 di Bandung juga. Tujuh tahun setelah proklamasi kemerdekaan, pemerintah RI mengundang-undangkan yang pertama mengenai pendidikan khusus. Mengenai anak- anak yang mempunyai kelainan fisik atau mental, Undang–Undang itu menyebutkan pendidikan dan pengajaran luar biasa diberikan dengan khusus untuk mereka yang membutuhkan ( pasal 6 ayat 2 ) dan untuk itu anak –anak tersebut ( pasal 8) yang mengatakan semua anak – anak yang sudah berumur 6 tahun dan 8 tahun berhak dan diwajibkan belajar disekolah sedikitnya 6 tahun dengan ini berlakunya undang – undang tersebut maka sekolah – sekolah baru yang khusus bagi anak – anak penyandang cacat.

            Kemudian pada tahun 2003 pemerintah mengeluarkan undang- undang no 20 tentang system pendidikan nasional ( UUSPN ). Dalam undang – undang tersebut dikemukakan hal- hal yang erat hubungan dengan pendidikan bagi anak-anak dengan kebutuhan pendidikan khusus, beberapa diantaranya sebagai berikut :
1.      Bab IV ( pasal 5 ayat 1 ) Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu baik yang memiliki kelainan fisik,emosional,mental,intelektual atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus.
2.      Bab V bagian 11 Pendidikan Khusus (pasal 32 ayat 1 ) Pendidikan khusus bagi peserta yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik,emosional,mental,sosial atau memiliki potensi kecerdasan.

            Dan untuk anak tunagrahita, di indonesia telah ada berbagai layanan pendidikan yang disediakan agar anak tunagrahita bisa mendapatkan pendidikan seperti halnya anak pada umumnya. Ada berbagai macam layanan pendidikan bagi anak tunagrahita saat ini, contohnya SLB C, sekolah inklusif dan masih banyak lagi. Di Indonesia pendidikan yang inklusif atau menuju inklusif pun terus digencarkan, setidaknya mulai 2001 pendidikan inklusi telah menjadi program Direktorat Pendidikan Luar Biasa yang bertugas untuk mengatur pelaksanaan pendidikan luar biasa tidak hanya di SLB namun juga di sekolah-sekolah reguler, termasuk salah satunya adalah membekali para guru di semua sekolah reguler dengan pengetahuan dan keterampilan layanan bagi anak berkebutuhan khusus. Beberapa sekolah pun baik itu SD, SMP, dan SMA reguler telah ditunjuk menjadi sekolah penyelenggara pendidikan inklusif. Walaupun memang dalam pelaksanaannya masih terdapat hambatan.

2.5  Laporan Data Observasi
a.      Profil Sekolah
1.      Nama sekolah              : SKH Negeri 01 Kota Serang

2.      Alamat                        : Jl. Bhayangkara No. 118 B Cipocok Jaya – Serang

3.      Telepon                       : (0254) 208485



4.      Status Sekolah            : Negeri

5.      Visi Sekolah                :

“Mendidik siswa bisa mandiri, berkemampuan optimal dan  berakhlak mulia”

6.      Misi Sekolah             :
a.       Melaksanakan kegiatan belajar mengajar mengacu pada perundangan-undangan yang berlaku.
b.      Melaksanakan program kurikulum yang berlaku.
c.       Memberikan bekal  keterampilan sesuai dengan tingkat dan jenis kecacatannya agar dapat hidup layak di masyarakat.
d.      Menambah bimbingan agama

7.     Tujuan                         :  
a.     Menampung anak berkebutuhan khusus di daerah serang dan sekitarnya dalam lembaga pendidikan formal.
b.    Mengembangkan potensi anak didik untuk menghadapi masa depan.
c.     Memberikan pelayanan pendidikan secara utuh


8.      Jenis Anak Berkebutuhan Khusus yang terdapat di  SKH Negeri 01 Kota Serang
1.      Tuna Grahita
2.      Tuna Rungu
3.      Tuna Daksa
4.      Tuna Netra
5.      Tuna Wicara

11. Jenjang Pendidikan yang terdapat di SKH Negeri 01 Kota Serang
1.     Sekolah Dasar Khusus
2.     Sekolah Menengah Pertama Khusus
3.     Sekolah Menengah Akhir Khusus

b.      Fasilitas Sekolah
1.      Fasilitas Sekolah.
Untuk menunjang proses pembelajaran diperlukan berbagai macam sarana penunjang antara lain: Ruang belajar SD, SMP, dan SMA.
2.     Perlengkapan / Alat Peraga.
Bermacam-macam alat peraga yang kebanyakan merupakan droping dari pemerintah. Meskipun ada yang usaha sendiri. Di dalam kelas juga terdapat gambar peraga seperti gambar pahlawan, gambar presiden, peta, huruf cetak dan lain-lain. Alat peraga setiap kelas berbeda tergantung dari ketunaannya. Di kelas-kelas juga ditempel hasil kerja dan kreatifitas siswa.
3.      Kepegawaian
Setiap kelas ada 1 guru yang menangani 5 siswa.
4.     Keadaan Siswa
Keadaan siswa tunagrahita memiliki pelayanan yang berbeda-beda, yaitu tunagrahita ringan,sedang dan parah.






c.       Hasil Wawancara
1.      Narasumber                      
a.       Nama                          : Bapak Yanto
b.      Usia                            : 46
c.       Agama                        : Islam
d.      Pendidikan Terakhir   : S1
2.      Biodata Siswa
a.    Nama Anak                           : Muhammad Diky
b.    Nama Panggilan                    :  Diky
c.    Tempat & tanggal Lahir        : Serang, 12 November 2001
d.   Sekolah                                 : SHK Negeri 01 Kota Serang
e.    Jenis kelamin                         : Laki –Laki
f.     Agama                                   : Islam
g.    Kelas                                      : B-1 (SMP Kelas 8)
h.    Anak ke                                 : 2

            Ciri-ciri fisik: Bagus memiliki perawakan tubuh yang sedang sedang, tingginya kira-kira 95 cm, rambutnya dipotong tipis dan berwarna hitam. Wajahnya bulat dan kulitnya berwarna coklat sawo matang. Giginya kecil-kecil dan rapi. Didalam berpakain, bagus terlihat cukup rapi, baik dari segi rambut dan hal yang lainnya, apa lagi hal yang berhubungan dengan peralatan sekolahnya bagus selalu lengkap. Ketika berkomunikasi dia selalu menunduk tidak menatap wajah orang yang mengajak dia berbicara karena dia merasa malu dan kurang percaya diri, pembelajaran proses berhitungnya pun baru angka 1 sampai dengan 10 dan disitu pun dia belum menuliskan angkanya, dan ketika proses pembicaraan dia mengalami kesulitan berbicara seperti misalnya untuk mengucapkan kata “Ibu” dia merasa kesusahan untuk mengucapkan kata tersebut perlu beberapa menit yang kemudian dia akan menjadi lupa apa yang barusan kita lakukan,

3.      Instrumen Wawancara     
a.       Apa saja jenis anak berkebutuhan yang ada di SKH ini?
Jawaban: Di SKH Negeri 01 Kota Serang ini terdapat 5 jenis anak berkebutuhan khusus, yaitu: tuna grahita, tuna rungu, tuna daksa, tuna netra, dan tuna wicara.
b.      Bagaimana sistem pembagian kelas di SKH ini?
Jawaban: Di SKH Negeri 01 Kota Serang sistem pembagian kelasnya berdasarkan ketunaan, kejenjangan, dan kelas.
c.       Untuk di SKH ini berapa lama jam belajar siswa nya?
Jawaban: Di SKH Negeri 01 Kota Serang ini jam belajar siswa dimulai dari pukul 07.00 – 12.00 WIB untuk setiap pelaksanaanya setiap jam pelajarannya tingkat SD 30 menit, tingkat SMP 35 menit, dan tingkat SMA 40 menit.
d.      Bagaimana kurikulum yang digunakan di SKH ini?
Jawaban: Di SKH Negeri 01 Kota Serang ini masih menggunakan kurikulum KTSP 2006.
e.      Kegiatan apa saja yang dilakukan untuk mengembangkan potensi peserta didik di SKH ini?
Jawaban: Di SKH Negeri 01 Kota Serang ini kegiatan yang dilakukan untuk mengembangkan peserta didik berdasarkan atas bimbingan bakat dan potensi serta di SKH ini terdapat ekstrakulikuler, seperti: menjahit, karya kayu, dan modeling.
f.       Berapa jumlah siswa yang bapak ajar di kelas ini?
Jawaban: Di SKH ini jumlah di setiap kelas kurang dari 10. Terkhusus dikelas ini terdapat 5 murid yang terdiri dari 3 siswa tuna daksa dan 2 siswa tuna grahita.
g.      Media apa saja yang bapak gunakan ketika mengajar siswa di SKH ini?
Jawaban: Di SKH 01 Kota Serang ini menggunakan media langsung yang sederhana seperti gambar, benda, menulis di papan tulis. Terkhusus untuk tuna netra menggunakan media huruf braile.
h.    Metode apa yang diterapkan agar anak-anak dapat mengerti materi yang ibu sampaikan dengan baik?
Jawaban: Di SKH 01 Kota Serang ini menggunakan metode pendekatan individual terhadap siswa tersebut.
i.        Hambatan dan kendala apa saja yang bapak rasakan saat menangani mereka dikelas?
Jawaban: Di SKH 01 Kota Serang ini hambatan dan kendalanya berbeda-beda tergantung dengan ketunaannya. Misalnya dalam siswa yang kita observasi siswa tuna daksa dan tuna grahita. Di tuna daksa seseorang  siswa adanya gangguan gerakan pada tangan kaku gerak bicaranya juga terganggu karena tidak dapat mengucapkan suatu kalimat yang ingin diungkapkan.
j.        Bagaimana cara menangani hambatan dan kendala yang bapak alami saat mengajar di kelas?
Jawaban: Ya, harus sabar menghadapi dan mengajarkan materi kepada anak-anak. Misalnya dalam mengajar matematika, harus melalui dua metode untuk anak tuna grahita sedang dan tuna grahita berat. Karena mereka terkadang gampang bosan dan bermain semaunya sendiri harus dilakukan juga layanan individu dan layanan sosial kepada setiap anak. Dan mereka diberi pengertian dan pengarahan bahwa mereka sama dengan yang lainnya.
k.   Bagaimana sistem evaluasi yang dilaksanakan untuk mengukur tingkat kemampuan anak di SKH ini?
Jawaban: Di SKH 01 Kota Serang ini guru menggunakan sistem evaluasi setelah penjelasan materi evaluasi UTS dan materi evaluasi setelah penjelasan materi UAS.
l.        Bagaimana tahap kelulusan di SKH ini?
Jawaban: Di SKH ini untuk ketunaan runggu, wicara, daksa, dan tuna netra tahap kelulusannya dengan mengikuti UN sedangkan untuk ketunaan grahita tahap kelulusannnya dengan mengikuti UAS.
m.    Apa pencapaian terbesar bapak untuk anak dikelas ini?
Jawaban: Harapannya kepada anak-anak dikelas ini adalah bisa mengembangkan potensi diri dipeserta didik tersebut yang nantinya bisa diterima dilapangan pekerjaan.
n.      Apa peranan pemerintah dalam memperhatikan fasilitas sekolah yang ada di SKH ini?
Jawaban: Peranan pemerintah dalam memperhatikan fasilitas sekolah yang ada di SKH ini pemerintah lebih memperhatikan fasilitas yang ada disekolah dan mendapatkan bantuan anggaran biaya untuk melengkapi segala fasilitas yang ada di SKH ini.

















BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
            Suksesnya perkembangan Anak berkebutuhan khusus di SKH Negeri 01 kota serang khususnya penyandang tunagrahita bergantung juga kepada kekompakan orang tua dan guru dalam mendidik dan membina anak tersebut. Mengingat anak penyandang tunagrahita mempunyai keterbelakangan dalam perkembangan mental dan intelektual dibawah rata-rata, sehingga sulit dalam berinteraksi pengucapan kata prestasi akademik, sosial, dan membutuhkan pendidikan khusus. Di sekolah ini setiap satu kelas terdiri dari 5 orang dan 1 tenaga pendidik. IQ terendah anak penyandang tunagrahita khususnya dikelas 8 SKH Negeri 01 kota serang adalah 32. Pada saat ujian pun dilakukan ujian lisan dan masih diarahkan untuk memilih jawaban karena dikelas 2 sendiri belum ada anak yang bisa membaca.
            Pembelajaran di SKH Negeri 01 kota serang mengacu kepada kurikulum 2013 meskipun masih menggunakan kurikulum KTSP 2006. Namun disesuaikan dengan kemampuan anak karena perkembangan intelektualnya sangatlah lambat. Pencapaian tertinggi disekolah ini untuk anak penyandang tunagrahita bukanlah dalam hal akademik namun bina diri. Cara mengajar juga disesuaikan dengan masing-masing anak dan mengandung prinsip individualisasi yaitu mengajarkan anak satu persatu. Meskipun mereka ada dalam satu kelas namun pelayanan nya berbeda dari satu anak ke anak yang lain.
            Sekolah sendiri belum memfasilitasi lapangan pekerjaan untuk Output tunagrahita sendiri, karena pemerintah sendiri juga belum mengakomodir output tunagrahita. Mengingat tidak banyak keahlian yang dimiliki tunagrahita. Dan diharapkan pemerintah sendiri bisa memfasilitasi lapangan pekerjaan untuk penyandang tunagrahita.



DAFTAR PUSTAKA

Chaer. Abdul. 2003. Psikolinguistik Kajian Teoritik. Jakarta : Rineka Cipta.
Hurlock B. Elizabeth. 1978. Perkembangan Anak. Jakarta : Erlangga
Tial Van MJ. 2007. Anaku Terlambat Bicara. Jakarta : Prenada Media Grop.
Shinta Ratna Cahyani . 2013. Anak Berkebutuhan Khusus. http://ratnashintaa. blogspot.com/2013/01/anak-berkebutuhan-khusus_4974.html. Diunduh pada tanggal 20 April 2016 pukul 16.15.
Tina Tuslina. 2012. Perkembangan Anak Berkebutuhan Khusus di Indonesia. http://edukasi.kompasiana.com/2012/05/20/perkembangan-pendidikan-anak-berkebutuhan-khusus-di-indonesia-463559.html. Diunduh pada tanggal  20 April 2016 pukul 17.12.














1 komentar:

  1. The Closest Casinos to Horseshoe Bossier State (Iowa)
    Horseshoe Bossier State. (821) 인천광역 출장안마 949-7000. Closest casinos. 여주 출장마사지 Closest casinos. 경산 출장샵 Closest casinos in Iowa. 출장마사지 Closest casinos 경기도 출장샵 near me. Closest casinos near me. Closest casinos near me

    BalasHapus