Jumat, 06 Mei 2016

Makalah Manajemen Kelas

MAKALAH
MANAJEMEN KELAS

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan dan Bimpesdik
Dosen Pengampu Dema Tesniyadi, S.Pd.,M.Pd.



  
                                                                              Oleh:

Cahya Rahmayanti

Umay Umamiyah

Vina Zakiah


JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2016



KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Manajemen Kelas ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Bapak Dema Tesniyadi ,S.Pd.,M.Pd selaku Dosen mata kuliah Psikologi Pendidikan dan Bimpesdik yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai Manajemen Kelas. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.


Serang, 24 Maret 2016


Penulis


DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR .................................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................. iii

BAB I   PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang........................................................................................... 1
1.2  Rumusan Masalah....................................................................................... 2
1.3  Tujuan Penulisan......................................................................................... 2
BAB II  PEMBAHASAN
2.1  Manajemen Kelas ...................................................................................... 4
2.2  Tujuan Manajemen Kelas .......................................................................... 5
2.3  Strategi Manajemen Kelas ......................................................................... 6
2.4  Keterampilan Manajemen Kelas ................................................................ 7
2.5  Manager Kelas Yang Efektif ..................................................................... 8
2.6  Masalah Dalam Manajemen Kelas ............................................................. 11
2.7  Manajemen Penataan Kelas ....................................................................... 14
BAB III  PENUTUP
3.1 Kesimpulan ................................................................................................ 18
3.2 Saran .......................................................................................................... 18

DAFTAR PUSTAKA







BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Dalam situasi pembelajaran di kelas, sering dijumpai kasus-kasus yang dihadapi guru, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman adalah manajemen kelas. Aspek yang paling sering didiskusikan oleh penulis profesional dan oleh para pengajar juga mengenai manajemen kelas. Manajemen kelas merupakan masalah tingkah laku yang kompleks, dan guru menggunakannya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas sedemikian rupa sehingga anak didik dapat mencapai tujuan pengajaran secara efisien dan memungkinkan mereka dapat belajar. Dengan demikian manajemen kelas yang efektif adalah syarat bagi pengajaran yang efektif. Tugas utama dan paling sulit bagi guru adalah memanajemen kelas, lebih-lebih tidak ada satupun pendekatan yang dikatakan paling baik.
Manajemen kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Dengan kata lain, ialah kegiatan-kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadi proses belajar mengajar. Yang termasuk kedalam hal ini misalnya adalah penghentian tingkah laku anak didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian hadiah bagi ketepatan waktu penyelesaian tugas oleh siswa, atau penetapan norma kelompok yang produktif.
Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur anak didik dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran. Juga hubungan interpersonal yang baik antara guru dan anak didik dan anak didik dengan anak didik merupakan syarat keberhasilan dalam memanajemen kelas. Manajemen kelas yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya proses belajar mengajar yang efektif.
Setiap guru masuk kedalam kelas, maka pada saat itu pula ia menghadapi dua masalah pokok, yaitu masalah pengajaran dan masalah manajemen. Masalah pengajaran adalah usaha membantu anak didik dalam mencapai tujuan khusus pengajaran secara langsung, misalnya membuat satuan pelajaran, penyajian informasi, mengajukan pertanyaan, evaluasi, dan masih banyak lagi.
Masalah manajemen merupakan usaha untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Misalnya, memberi penguatan, mengembangkan hubungan guru anak didik, membuat aturan kelompok yang produktif. Kadang-kadang sukar untuk dapat membedakan mana masalah pengajaran dan masalah manajemen. Masalah pengajaran harus diatasi dengan cara pengajaran, dan masalah manajemen kelas harus diatasi dengan cara manajemen kelas sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, rumusan masalah yang didapat adalah sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud dengan manajemen kelas?
2.      Apa saja tujuan dari manajemen kelas?
3.      Apa saja strategi-strategi dalam manajemen kelas?
4.      Apa saja keterampilan-keterampilan dalam manajemen kelas?
5.      Bagaimana cara membuat manager kelas yang efektif?
6.      Apa saja masalah-masalah yang terdapat dalam manajemen kelas?
7.      Bagaimana cara memanajemen penataan kelas?

1.3  Tujuan Masalah
Adapun maksud dan tujuan penulis dalam menyusun makalah ini tiada lain adalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui dan memahami makna dari manajemen kelas.
2.      Mengetahui dan memahami tujuan dari manajemen kelas.
3.      Mengetahui dan memahami strategi dalam manajemen kelas.
4.      Mengetahui dan memahami keterampilan-keterampilan dalam manajemen kelas.
5.      Mengetahui dan memahami cara membuat manager kelas yang efektif.
6.      Mengetahui dan memahami masalah-masalah yang terdapat dalam manajemen kelas.
7.      Mengetahui dan memahami cara memanajemen penataan kelas.

















BAB II
PEMBAHASAN


2.1  Manajemen Kelas
Manajemen kelas adalah salah satu tugas guru yang tidak pernah ditinggalkan. Guru selalu memanajemen kelas ketika dia melaksanakan tugasnya. Manajemen kelas dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak didik sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Ketika kelas terganggu, guru berusaha mengembalikannya agar tidak menjadi penghalang bagi proses belajar mengajar. Manajemen kelas adalah suatu usaha dengan sengaja dilakukan guna mencapai tujuan pengajaran.
Kesimpulan yang sangat sederhana bahwa manajemen kelas adalah kegiatan pengaturan kelas untuk kepentingan pengajaran. Pengertian lain dari pengertian manajemen kelas adalah ditinjau dari paham lama, yaitu mempertahankan ketertiban kelas. Sedangkan menurut pengertian baru seperti dikemukakan oleh Made Pidarta dengan mengutip pendapat Louis V. Johnson dan Marry A. Bany, bahwa manajemen kelas adalah proses seleksi dan penggunaan alat-alat yang tepat terhadap problema dan situasi kelas. Dalam hal ini guru bertugas menciptakan, mempertahankan dan memelihara sistem atau organisasi kelas. Sehingga individu siswa dapat memanfaatkan kemampuannya, bakatnya, dan energinya pada tugas-tugas individual.
Sedangkan menurut Sudirman N, dkk., (1991:310) manajemen kelas adalah upaya mendayagunakan potensi kelas. Ditambahkan lagi oleh Hadari Nawawi (1989:115) dengan mengatakan bahwa kegiatan manajemen atau pengelolaan kelas dapat diartikan sebagai kemampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah sehingga waktu dan dana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efisien untuk melakukan kegiatan-kegiatan kelas yang berkaitan dengan kurikulum dan perkembangan murid. Suharsimi Arikunto (1988:67) juga berpendapat bahwa manajemen kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggungjawab kegiatan belajar mengajar atau yang membantu dengan maksud agar dicapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan. Suharsimi memahami manajemen atau pengelolaan kelas ini dari dua segi, yaitu pengelolaan yang menyangkut siswa, dan pengelolaan fisik (ruangan, perabot, alat pelajaran). Menurutnya membuka jendela agar udara segar dapat masuk keruangan atau agar ruangan menjadi tenang, menyalakan lampu listrik, menggeser papan tulis, mengatur meja merupakan kegiatan pengelolaan kelas fisik.
Menurut Eggen & Kauchak (1997) manajemen kelas adalah kombinasi strategi guru dan faktor organisasional kelas yang membentuk lingkungan belajar yang produktif, yang mencakup rutinitas, aturan-aturan sekolah dan kelas, respon guru terhadap perilaku siswa, strategi pembelajaran yang menciptakan iklim yang kondusif untuk siswa belajar. Fungsi manajemen kelas dalam hal ini adalah:
1.        Perencanaan, yaitu menyangkut keberlangsungan aktivitas dan bagaimana aktivitas tersebut dapat diorganisir dengan cara terbaik.
2.        Komunikasi, yaitu menekankan perlunya untuk mengatakan pada siswa apa yang diharapkan dari mereka, ini merupakan unsur utama dalam manajemen yang efektif.
3.        Kontrol, yaitu mengekspresikan kebutuhan menjaga iklim kelas yang kondusif untuk belajar.

2.2  Tujuan Manajemen Kelas
Suharsimi Arikunto (1988:68) berpendapat bahwa tujuan manajemen kelas adalah agar setiap anak dikelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Menurutnya, sebagai indikator dari sebuah kelas yang tertib adalah apabila:
1.        Setiap anak terus bekerja, tidak macet, artinya tidak ada anak yang terhenti karena tidak tau ada tugas yang harus dilakukan atau tidak dapat melakukan tugas yang diberikan kepadanya.
2.        Setiap anak terus melakukan pekerjaan tanpa membuang waktu, artinya setiap anak akan bekerja secepatnya supaya lekas menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. Apabila ada anak yang walaupun tau dan dapat melaksanakan tugasnya, tetapi mengerjakannya kurang bergairah dan mengulur waktu bekerja, maka kelas tersebut diciptakan tidak tertib.
Jadi, beda antara (1) dan (2) adalah pada (1) anak tidak tau akan tugas atau tidak dapat melakukan tugas, dan pada (2) anak tau dan dapat, tetapi kurang bergairah bekerja.

2.3    Strategi Manajemen Kelas
Dalam upaya menciptakan iklim kelas yang kondusif, dapat ditempuh dengan dua strategi manajemen. Yaitu strategi pencegahan timbulnya masalah dan strategi pemecahan masalah (Elliot dkk.,1996). Strategi pencegahan lebih menekankan pada upaya timbulnya masalah perilaku siswa dengan menggunakan prosedur pembelajaran dan manajemen, sedangkan strategi pemecahan masalah menekankan pada upaya mengatasi masalah yang timbul dalam kelas. Menurut Elliot dkk., (1996) program manajemen kelas yang komprehensif adalah yang memadukan kedua strategi itu. Strategi ini dinamakan manajemen kelas proaktif yang mencakup tindakan aktif dalam merespon masalah dan tindakan proaktif dalam merencakan tindakan yang produktif. Ciri-cirinya yaitu:
1.        Lebih bersifat preventif ketimbang reaktif.
2.        Mengintegrasikan metode-metode yang memfasilitasi perilaku siswa yang sesuai prosedur peningkatan prestasi, dengan menggunakan teknik pembelajaran yang efektif.
3.        Menekankan dimensi kelompok dari manajemen kelas.
2.4    Keterampilan Manajemen Kelas
Secara umum, yang termasuk keterampilan manajemen dasar dalam praktik pembelajaran di kelas adalah keterampilan mengorganisir dan memonitor aktivitas kelas. Keterampilan membentuk kelompok, keterampilan menetapkan aturan dan prosedur, dan keterampilan yang memberikan respon terhadap perilaku yang menyimpang.
Tahap dalam manajemen kelas yang efektif adalah pengorganisasian aktivitas kelas. Ini dilakukan untuk meyakinkan bahwa iklim kelas cukup kondusif untuk terjadinya proses belajar. Menurut Laslett dan Smith (1984) mengidentifikasi empat keterampilan pengorganisasian kelas, yaitu:
1.        Get them in, yaitu keterampilan memulai pelajaran.
2.        Get them out, yaitu keterampilan menyimpulkan dan mengakhiri pelajaran.
3.        Get on with it, yaitu berfokus pada isi pembelajaran dan pengorganisasiannya.
4.        Get on with them, yaitu menjalin hubungan yang positif dengan siswa.
Menurut Caroll (dalam Elliot dkk., 1996) mengemukakan sebuah model managemen kelas yang menggunakan dua kategori analisis waktu yaitu:
1.        Penentuan yang diperlukan untuk belajar. Ada tiga aspek penting dalam kategori ini adalah: (1) jumlah waktu yang diperlukan siswa untuk mempelajari suatu pelajaran, (2) kemampuan memahami pembelajaran yang dipengaruhi oleh tingkat intelegensi dan kemampuan verbal, (3) kualitas pembelajaran yaitu kemampuan guru menyajikan pelajaran secara menarik dan mudah dipahami.
2.        Pemanfaatan waktu belajar. Ada dua aspek penting dalam kategori ini adalah: (1) waktu untuk belajar yaitu kesempatan yang dimiliki oleh setiap siswa untuk belajar di sekolah, (2) ketekunan yaitu jumlah waktu yang digunakan siswa untuk belajar.
            Menurut Mulyasa (2005:91), keterampilan mengelola kelas memiliki komponen sebagai berikut:
1.      Penciptaan dan pemeliharaan iklim pembelajaran yang optimal.
2.      Keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal.
Pengajaran kelompok kecil dan perorangan merupakan suatu bentuk pembelajaran yang memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap peserta didik, dalam menjalin hubungan yang lebih akrab antara guru dengan peserta didik maupun antara peserta didik dengan peserta didik.
Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan dapat dilakukan dengan:
1.        Mengembangkan keterampilan dalam pengorganisasian dengan memberikan motivasi dan membuat variasi dalam pemberian tugas.
2.        Membimbing dan memudahkan belajar, yang mencakup pemuatan, proses awal, supervisi, dan interaksi pembelajaran.
3.        Perencanaan penggunaan ruangan.
4.        Pemberian tugas yang jelas, menantang, dan menarik.
Khusus dalam melakukan pembelajaran perorangan, perlu diperhatikan kemampuan dan kematangan berfikir peserta didik, agar apa yang disampaikan bisa diserap dan diterima oleh peserta didik.

2.5    Manager Kelas yang Efektif
Manager yang efektif awalnya tidak terlalu membebani siswa. Mereka dengan aturan-aturan seperti yang cenderung dilakukan oleh banyak guru pemula, tetapi mulai dengan aturan yang bersifat mendasar dan secara perlahan-lahan memperkenalkan aturan lainnya sesuai aturan. Mereka juga secara periodik mengingatkan siswa tentang aturan yang ada. Dengan cara memonitor siswa dari dekat, mereka mampu memperingatkan dengan cepat bila terjadi pelanggaran dan berupaya memperbaikinya sebelum pelanggaran kecil tersebut berkembang menjadi masalah besar. Dengan memahami karakteristik siswa yang diajar, guru dpaat mengantisipasi sumber potensi masalah dan merumuskan aturan yang akan membantu mereka mencegahnya.
Emmer dkk., (dalam Elliot dkk., 1996) mempelajari guru-guru SD yang dinilai sebagai manager yang efektif dan menyatakan bahwa para guru tersebut memberitahukan aturan dan prosedur mereka pada hari pertama pelajaran dimulai dan juga sengaja mengintegrasikannya kedalam sistem pembelajaran mereka. Aturan mereka bersifat eksplisit, konkret dan fungsional, dan guru tersebut memberikan mereka contoh tanda yang mereka gunakan untuk berbagai aktivitas.
Menurut Kounin (1970) ciri-ciri perilaku guru sebagai manajer kelas yang efektif adalah:
1.        Adanya kesadaran, yaitu pengetahuan dan pemahaman guru tentang apa yang terjadi di dalam kelas mereka. Guru tau apa yang sedang berlangsung di dalam kelas, mereka tau bila ada perilaku yang menyimpang dan seberapa parah penyimpangannya. Mereka juga tau kapan harus memberikan intervensi sehingga perilaku itu tidak menyebar ke siswa lain dan menjadi masalah yang serius.
2.        Kemampuan overlapping, yaitu kemampuan guru untuk menangani dua atau lebih masalah yang terjadi secara simultan di dalam kelas.
3.        Kelancaran dalam melakukan transisi, yaitu guru tidak memiliki kesulitan dalam menangani aktifitas di dalam kelas mereka. Guru memulai pelajaran, menjaga keberlangsungannya, dan mengakhiri berbagai aktivitas pembelajaran yang melibatkan banyak bahan pelajaran.
4.        Kesiapan kelompok, yaitu penggunaan metode pembelajaran yang menjaga minat dan kontribusi hidup pada pelajaran.
Tidak dapat dielakkan bahwa dalam situasi pembelajaran guru akan menghadapi berbagai keragaman. Keragaman itu dapat meliputi keragaman latar budaya, ras, suku, agama, etnik, jenis kelamin, tingkat ekonomi dan banyak hal lagi. Biasanya guru, karena pengalamanya mampu beradaptasi terhadap hal-hal seperti itu. Ia dapat menyiasatinya, misalnya dengan penerapan pembelajaran kelompok kecil dalam pembelajaran kooperatif (cooperative learing), dan bersikap adil terhadap semua siswa. Namun, seringkali guru mengalami kesulitan jika keragaman itu terkait dengan keragaman kemampuan siswa dalam belajar.
Dalam kaitan ini Menurut Donald P. Kauchak (Rosyada, 2004:129) menyarankan agar manajemen atau pengelolaan kelas oleh guru memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.        Ciptakan ruang kelas yang multidimensional, dan juga buatlah rancangan proses pembelajaran yang menggambarkan keragaman kemampuan belajar tersebut. Kelas multidimensional bukan berkonotasi fisik, tetapi rancangan pembelajarannya. Program pembelajaran yang sama, topik yang sama, dilaksanakan pada kelompok yang berbeda sesuai dengan indeks kemampuan belajar mereka. Penugasan-penugasan dirancang bersifat graduatif, sehingga baik kelompok yang berkemampuan tinggi maupun yag rendah tidak dirugikan. Pada akhir pelajaran, setiap kelompok menyampaikan hasil pelaksanaan tugasnya dalam sebuah kelompok besar yang konvergen yang merupakan penggabungan dari berbagai kelompok.
2.        Buatlah rancangan waktu yang fleksibel namun tetap dalam koridor satuan waktu yang ditetapkan kurikulum. Jika 1 jam pelajaran 35 menit misalnya, rancanglah bahwa anak-anak yang berkemampuan tinggi dapat menyelesaikannya dalam waktu yang lebih cepat, sementara siswa dengan kemampuan rendah tetap dapat menyelesaikan tugas-tugasnya. Dalam hal ini dapat diberikan pengayaan kepada siswa yang berkemampuan lebih tinggi.
3.        Kelompokkan siswa berdasarkan basis kemampuannya (achievement group).
4.        Persiapkan strategi pembelajaran untuk kelompok yang lamban dengan strategi yang tidak saja akan mengantarkan mereka memahami tugas-tugasnya, tetapi juga akan mampu meningkatkan kemampuan belajar mereka.
5.        Gunakan tutorial sebaya (peer teaching) dan belajar bersama untuk menambah kemampuan dan pengalaman mereka masing-masing.
Dalam kaitan ini apa yang digambarkan oleh Gary Flewelling dan William Higginson, yang beraliran konstuktivis dalam publikasinya berjudul Teaching with Rich Learning Tasks (2003) dapat menjadi acuan yang baik. Dalam publikasinya itu diungkapkan apa tugas guru dan siswa dalam kelas yang dikelola dengan baik. Menurut kedua pakar tersebut dalam pengelolaan kelas yang efektif, guru harus mempunyai tugas yang baik.

2.6         Masalah Manajemen Kelas
Keanekamacaman masalah perilaku siswa menimbulkan beberapa masalah pengelolaan kelas. Menurut Made Pidata, masalah-masalah pengeloaan atau manajemen kelas yang berhubungan dengan perilaku siswa adalah:
1.        Kurang kesatuan, dengan adanya kelompok-kelompok dan pertentangan jenis kelamin.
2.        Tidak ada standar perilaku dalam bekerja kelompok, misalnya ribut, bercakap-cakap, pergi kesana kemari, dan lain sebagainya.
3.        Reaksi negatif terhadap anggota kelompok. Misalnya ribut, bermusuhan, mengucilkan, merendahkan kelompok bodoh, dan sebagainya.
4.        Kelas mentoleransi kekeliruan temannya, yaitu menerima dan mendorong perilaku siswa yang keliru.
5.        Mudah mereaksi negatif atau terganggu. Misalnya bila didatangi monitor, tamu-tamu, iklim yang berubah dan lain sebagainya.
6.        Moral rendah, permusuhan, agresif. Misalnya dalam lembaga dengan alat-alat belajar kurang, kekurangan uang, dan sebagainya.
7.        Tidak mampu menyesuaikan dengan lingkungan yang berubah. Seperti tugas-tugas tambahan, anggota kelas yang baru, situasi baru, dan sebagainya.
Menurut Rudolf Dreikursh dan Pearl Cassel membedakan Menurut kelompok masalah manajemen kelas individual yang didasarkan asumsi bahwa semua tingkah laku individu merupakan upaya pencapaian tujuan pemenuhan keputusan untuk diterima kelompok dan kebutuhan untuk mencapai harga diri. Perbuatan-perbuatan untuk mencapai tujuan dengan cara yang asosial inilah oleh pasangan penulis diatas digolongkan sebagai berikut:
1.      Tingkah laku yang ingin mendapatkan perhatian oranglain (Attention Getting Behaviours). Misalnya membadut dikelas (aktif), atau dengan berbuat serba lamban sehingga perlu mendapat pertolongan ekstra (pasif).
2.      Tingkah laku yang ingin menunjukkan kekuatan (Power Seeking Behaviours).        Misalnya selalu mendebat atau kehilangan kendali emosional marah-marah, menangis (aktif) atau selalu “lupa” pada aturan-aturan penting dikelas (pasif).
3.      Tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang lain (Reverenge Seeking Behaviours). Misalnya menyakiti oranglain seperti mengatai-ngatai, memukul, menggigit, dan sebagainya (kelompok ini tampaknya kebanyakan dalam bentuk aktif atau pasif).
4.      Peragaan ketidakmampuan yaitu dalam bentuk sama sekali menolak untuk mencoba melakukan apapun karena yakin bahwa hanya kegagalanlah yang menjadi bagiannya .
Menurut Drei Krush dan Kassel menyarankan sebagai berikut: apabila seorang guru merasa terganggu oleh perbuatan seorang peserta didik, maka kemungkinan peserta didik yang bersangkutan ada pada tahap Attention getting. Bila guru merasa dikalahkan atau merasa terancam, maka kemungkinan peserta didik yang bersangkutan ada pada tahap Power Sikking. Bila guru merasa tersinggung atau terluka hati, maka kemungkinan pelakunya ada pada tahap Revenge Sekking. Dan akhirnya bila guru benar-benar merasa tidak mampu berbuat apa-apa lagi dalam menghadapi ulah peserta didik, maka kemungkinan yang dihadapinya adalah perasaan ketidakmampuan.
Sedangkan Menurut Loise V. Johnson dan Marry A.Banny mengemukakan empat kategori masalah kelompok dalam pengelolaan kelas yaitu:
1.        Kelas kurang kohesif. Misalnya perbedaan jenis kelamin, suku, dan tingkatan sosio ekonomi dan sebagainya.
2.        Kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang anggotanya misalnya mengejek anggota kelas yang dalam mengajar seni suara menyanyi dengan suara sumbang.
3.        “Membesarkan hati anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok, misalnya pemberian semangat pada badut kelas.
4.        Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiaanya dari tugsa yang tengah digarap
5.        Semangat kerja rendah,. Misalnya semacam aksi protes kepada guru karena menganggap tugas yang diberikan kurang adil.
6.        Kelas kurang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan baru. Misalnya gangguan jadwal atau guru kelas terpaksa diganti sementara oleh guru lain dan sebagainya.


2.7     Manajemen Penataan Kelas
Dalam prinsip penataan kelas, terdapat empat prinsip dasar yang dapat digunakan untuk menata kelas antaralain (Evertson Emmer dan Worsham, 2003):
1.        Kurangi kepadatan ditempat lalu lalang. Gangguan dapat terjadi didaerah yang sering dilewati daerah ini antaralain, area-area belajar kelompok, bangku murid, meja guru, dan lokasi penyimpanan pensil, rak buku, komputer, dan lokasi lainnya. Pisahkan area ini sejauh mungkin dan dapat diakses.
2.        Pastikan bahwa guru dapat dengan mudah melihat semua murid. Tugas manajemen yang penting adalah memonitor murid secara cermat untuk itu, guru harus bisa melihat semua murid, pastikan ada jarak pandang yang jelas dari meja guru, lokasi instruksional, meja murid, dan semua murid. Jangan sampai ada yang tidak kelihatan.
3.        Materi pengajaran dan perlengkapan murid harus mudah diakses. Ini akan meminimalkan waktu persiapan, dan mengurangi kelambatan dan gangguan aktivitas.
4.        Pastikan murid dapat mudah melihat semua presentasi kelas. Tentukan dimana guru dan murid akan berada saat presentasi kelas diadakan. Untuk aktivitas ini murid tidak boleh memindahkan kursi atau menjulurkan lehernya. Untuk mengetahui seberapa baik dapat melihat dari tempat mereka, duduklah dikursi mereka.
Dalam memikirkan bagaimana seorang guru mengorganisasikan ruang fisik kelas, guru harus bertanya kepada diri sendiri aktivitas pengajaran apa yang akan diterima murid (seluruh kelas, kelompok kecil, tugas individual). Pertimbangkan penataan fisik yang paling mendukung aktivitas itu (Crane, 2001; Fickes, 2001).
Penataan kelas standar menunjukkan sejumlah gaya dalam penataan kelas, antaralain: Auditorium, tatap muka, offset, seminar, klasster (Renne, 1997)
1.        Dalam gaya auditorim tradisional semua murid duduk menghadap guru. Penataan ini membatasi kontak murid tatap muka dan guru bebas bergerak kemana saja. Gaya auditorim sering dipakai ketika guru mengajar atau seseorang memberi presentasi ke kelas.
2.        Dalam gaya tatap muka (face to face) murid saling menghadap. Gangguan dari murid lain akan lebih besar pada susunan ini ketimbang pada susunan auditorial.
3.        Dalam gaya offset, sejumlah murid (biasanya tiga atau empat anak) duduk dibangku tetapi tidak duduk berhadapan langsung satu sama lain. Gangguan dalam gaya ini lebih sedikit ketimbang gaya tatap muka dan dapat efektif untuk kegiatan pembelajaran kooperatif.
4.        Dalam gaya seminar, sejumlah besar murid (sepuluh atau lebih) duduk di susunan berbentuk lingkaran, atau persegi atau bentuk U. Ini terutama efektif ketika guru ingin agar murid berbicara satu sama lain atau bercakap-cakap dengan guru.
5.        Dalam gaya classter sejumlah murid (biasanya empat sampai delapan anak) bekerja dalam kelompok kecil. Susunan ini terutama efektif untuk aktivitas pembelajaran kolaboratif.
            Menurut pakar manajemen kelas Carol Weinstein dan Andrew Mignano (1997) kelas sering mirip sekali dengan kamar motel nyaman tetapi inpersonal, tidak mengungkapkan apapun tentang orang yang menggunakan ruang itu. Anonimitas semacam itu biasanya terjadi disekolah menengah, dimana enam atau tujuh kelas mungkin menggunakan ruangan selama satu hari. Untuk mempersonalisasikan kelas, pasang foto murid, karya seni, tugas, diagram tanggal lahir murid (untuk murid SD), dan ekspresi murid lain yang positif. Papan bulletin dapat disediakan untuk memajang nama “murid top minggu ini” atau karya terbaik minggu ini yang dipilih sendiri oleh murid.
            Selain itu, di dalam memanajemen kelas, seorang guru harus menciptakan iklim positif di ruang kelas. Dasar dari sebuah iklim positif adalah interaksi yang positif antara guru dan para siswa dan diantara sesama siswa. Sebuah lingkungan positif mendorong para siswa menjadi begitu bersemangat mengenai pengalaman sekolah mereka dan mengenai pemelajaran.
            Seperti seluruh manusia lainnya, anak-anak memiliki kebutuhan yang besar agar diterima dalam sebuah kelompok. Anda bisa meningkatkan perasaan memiliki dengan sejumlah cara: (Erwin, 2003: Evertson, 2007).
1.      Bicaralah dengan sopan dan tenang. Para siswa harus mendengarkan para guru berkata “tolong”, “terima kasih”, dan “permisi”. Kesopanan ini begitu diharapkan dan dicontohkan oleh para siswa. Sebuah suara yang tenang mengindikasikan penerimaan dan pengendalian diri. Jika anak-anak merasa terancam atau frustasi, maka mengetahui bahwa sang guru tidak marah akan memberikan perasaan tenang.
2.      Berbagi informasi. Ingatlah nama setiap siswa secepat mungkin dan terlibatlah dalam kegiatan yang membantu para siswa mempelajari lebih banyak satu sama lain. Perkenalkan diri anda dan berbagi lah tentang minat anda. Berbicaralah secara personal dengan para siswa anda untuk mengetahui mereka secara individual.
3.      Gunakan pernyataan positif sesering mungkin. Sering kali prilaku negatif lebih diperhatikan ketimbang yang positif; oleh karena itu, kita cenderung lebih sering berkomentar tentang perilaku negatif. Mungkinkita juga merasa terdorong untuk menyebutkan perilaku negatif karena kita meyakini bahwa tindakan tersebut akan memperbaiki perilaku para siswa. Kenyataan, yang terjadi adalah kebalikannya. Pernyataan negatif tidak hanya menjadikan siswa tersebut merasa negatif tetapi juga cenderung menciptakan lingkungan negatif yang memengaruhi semua orang.
4.      Menciptakan suatu perasaan komunitas. Ajarkan para siswa untuk bekerja secara kooperatif dan berikan mereka banyak kesempatan untuk belajar dalam kegiatan kooperatif yang terstruktur. Laksanakan pertemuan kelas secara teratur untuk pembangunan kelas, penyelesaian masalah, dan diskusi yang terkait dengan konten. Salah satu dari pertemuan pertama anda dapat berupa penciptaan aturan dan prosedur kelas.
            Sementara membangun sebuah hubungan positif dengan para siswa individual dianggap sebagai salah satu predikator paling penting bagi keberhasilan siswa, memahami konsep kewenangan juga sama pentingnya bagi kesehatan komunitas. Agar merasa aman, anak-anak harus mengetahui bahwa terdapat sebuah sumber kewenangan di dalam ruang kelas ( Brophy, 2004; Hoy & Weinstein, 2006). Kekuasaan otoritas biasanya terletak pada guru, tetapi bagaimana kekuasaan tersebut digunakan merupakan sebuah pengaruh kritis dalam komunitas pemelajaran.
            Dari uraian diatas, Menurut John W.Santrong (2011:565) Tips-tips dalam manajemen penataan kelas antaralain:
1.      Pastikan area kelas didefinisikan dengan baik.
2.      Tata jalan tempat lalulalang dan tempat penyimpanan.
3.      Perabot yang bersih dan aman adalah keharusan.
4.      Menata ulang kelas adalah sesuatu yang menyegarkan. Cari sudut pandang yang berbeda untuk menempatkan orang dan barang.
5.      Materi harus disimpan ditempat yang sama sepanjang tahun ajaran.
6.      Kelas harus terang dan menyenangkan dengan banyak materi dan kenangan sekolah yang bisa dibaca dan dilihat murid.
7.      Lihat apa yang dilakukan guru lain.
8.      Tempatkan komputer ditempat yang tidak akan mengganggu murid.




BAB III
PENUTUP


3.1    Kesimpulan

            Manajemen kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggungjawab kegiatan belajar mengajar atau yang membantu dengan maksud agar dicapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan. Tujuan manajemen kelas adalah agar setiap anak dikelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Dengan adanya manajemen kelas diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaan dikelas karena situasi dan kondisi kelas yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.

3.2   Saran
            Dengan melihat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju, dimasa yang akan datang diharapkan sistem manajemen kelas agar lebih ditingkatkan lagi. Perkembangan pembelajaran di dunia global semakin pesat, oleh karena itu guru kelas diwajibkan untuk memiliki kompetensi khusus dalam mengelola kelas agar terciptanya suasana belajar yang menyenangkan, efektif, serta efisien sehingga dalam tujuan pembelajaran dapat terlaksana dengan baik dan optimal.






DAFTAR PUSTAKA


Djamarah, Syaiful Bahri. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Evertson, M. Carolyn. 2011. Manajemen Kelas Untuk Guru Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana.
Khodijah, Nyanyu. 2014. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grapindo Persada.
Mulyasa. 2005. Menjadi Guru Professional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Rohani, Ahmad. 2004. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Santrock, John W. 2011. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana.
Suyono. 2011. Belajar dan Pembelajaran: Teori dan Konsep Dasar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar