MAKALAH
MANAJEMEN KELAS
Diajukan
untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan dan Bimpesdik
Dosen
Pengampu Dema Tesniyadi, S.Pd.,M.Pd.
Oleh:
|
|
Cahya
Rahmayanti
|
|
|
Umay
Umamiyah
|
|
|
Vina
Zakiah
|
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2016
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang
Manajemen Kelas ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga
kami berterima kasih pada Bapak Dema Tesniyadi ,S.Pd.,M.Pd selaku Dosen mata
kuliah Psikologi Pendidikan dan Bimpesdik yang telah memberikan tugas ini
kepada kami.
Kami
sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai Manajemen Kelas. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa
di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh
sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah
yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang
sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga
makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya
laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang
yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan
kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun
dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.
Serang, 24
Maret 2016
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang........................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah....................................................................................... 2
1.3 Tujuan
Penulisan......................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Manajemen Kelas ...................................................................................... 4
2.2 Tujuan Manajemen Kelas .......................................................................... 5
2.3 Strategi Manajemen Kelas ......................................................................... 6
2.4 Keterampilan Manajemen Kelas ................................................................ 7
2.5 Manager Kelas Yang Efektif ..................................................................... 8
2.6 Masalah Dalam Manajemen Kelas ............................................................. 11
2.7 Manajemen Penataan Kelas ....................................................................... 14
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ................................................................................................ 18
3.2 Saran .......................................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam
situasi pembelajaran di kelas, sering dijumpai kasus-kasus yang dihadapi guru,
baik pemula maupun yang sudah berpengalaman adalah manajemen kelas. Aspek yang
paling sering didiskusikan oleh penulis profesional dan oleh para pengajar juga
mengenai manajemen kelas. Manajemen kelas merupakan masalah tingkah laku yang
kompleks, dan guru menggunakannya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi
kelas sedemikian rupa sehingga anak didik dapat mencapai tujuan pengajaran
secara efisien dan memungkinkan mereka dapat belajar. Dengan demikian manajemen
kelas yang efektif adalah syarat bagi pengajaran yang efektif. Tugas utama dan
paling sulit bagi guru adalah memanajemen kelas, lebih-lebih tidak ada satupun
pendekatan yang dikatakan paling baik.
Manajemen
kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi
belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses
belajar mengajar. Dengan kata lain, ialah kegiatan-kegiatan untuk menciptakan
dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadi proses belajar mengajar.
Yang termasuk kedalam hal ini misalnya adalah penghentian tingkah laku anak
didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian hadiah bagi ketepatan
waktu penyelesaian tugas oleh siswa, atau penetapan norma kelompok yang
produktif.
Suatu
kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur anak didik
dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan
untuk mencapai tujuan pengajaran. Juga hubungan interpersonal yang baik antara
guru dan anak didik dan anak didik dengan anak didik merupakan syarat keberhasilan
dalam memanajemen kelas. Manajemen kelas yang efektif merupakan prasyarat
mutlak bagi terjadinya proses belajar mengajar yang efektif.
Setiap
guru masuk kedalam kelas, maka pada saat itu pula ia menghadapi dua masalah
pokok, yaitu masalah pengajaran dan masalah manajemen. Masalah pengajaran
adalah usaha membantu anak didik dalam mencapai tujuan khusus pengajaran secara
langsung, misalnya membuat satuan pelajaran, penyajian informasi, mengajukan pertanyaan,
evaluasi, dan masih banyak lagi.
Masalah
manajemen merupakan usaha untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi
sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara
efektif dan efisien. Misalnya, memberi penguatan, mengembangkan hubungan guru
anak didik, membuat aturan kelompok yang produktif. Kadang-kadang sukar untuk
dapat membedakan mana masalah pengajaran dan masalah manajemen. Masalah
pengajaran harus diatasi dengan cara pengajaran, dan masalah manajemen kelas harus
diatasi dengan cara manajemen kelas sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai
secara optimal.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang yang telah dipaparkan di atas, rumusan masalah yang didapat adalah
sebagai berikut:
1. Apa
yang dimaksud dengan manajemen kelas?
2. Apa
saja tujuan dari manajemen kelas?
3. Apa
saja strategi-strategi dalam manajemen kelas?
4. Apa
saja keterampilan-keterampilan dalam manajemen kelas?
5. Bagaimana
cara membuat manager kelas yang efektif?
6. Apa
saja masalah-masalah yang terdapat dalam manajemen kelas?
7. Bagaimana
cara memanajemen penataan kelas?
1.3 Tujuan Masalah
Adapun maksud dan
tujuan penulis dalam menyusun makalah ini tiada lain adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui
dan memahami makna dari manajemen kelas.
2. Mengetahui
dan memahami tujuan dari manajemen kelas.
3. Mengetahui
dan memahami strategi dalam manajemen kelas.
4. Mengetahui
dan memahami keterampilan-keterampilan dalam manajemen kelas.
5. Mengetahui
dan memahami cara membuat manager kelas yang efektif.
6. Mengetahui
dan memahami masalah-masalah yang terdapat dalam manajemen kelas.
7. Mengetahui
dan memahami cara memanajemen penataan kelas.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Manajemen Kelas
Manajemen kelas adalah salah satu tugas
guru yang tidak pernah ditinggalkan. Guru selalu memanajemen kelas ketika dia
melaksanakan tugasnya. Manajemen kelas dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan
belajar yang kondusif bagi anak didik sehingga tercapai tujuan pengajaran
secara efektif dan efisien. Ketika kelas terganggu, guru berusaha
mengembalikannya agar tidak menjadi penghalang bagi proses belajar mengajar.
Manajemen kelas adalah suatu usaha dengan sengaja dilakukan guna mencapai
tujuan pengajaran.
Kesimpulan yang sangat sederhana bahwa manajemen
kelas adalah kegiatan pengaturan kelas untuk kepentingan pengajaran. Pengertian
lain dari pengertian manajemen kelas adalah ditinjau dari paham lama, yaitu
mempertahankan ketertiban kelas. Sedangkan menurut pengertian baru seperti
dikemukakan oleh Made Pidarta dengan mengutip pendapat Louis V. Johnson dan
Marry A. Bany, bahwa manajemen kelas adalah proses seleksi dan penggunaan
alat-alat yang tepat terhadap problema dan situasi kelas. Dalam hal ini guru
bertugas menciptakan, mempertahankan dan memelihara sistem atau organisasi
kelas. Sehingga individu siswa dapat memanfaatkan kemampuannya, bakatnya, dan
energinya pada tugas-tugas individual.
Sedangkan
menurut Sudirman N, dkk., (1991:310) manajemen kelas adalah upaya
mendayagunakan potensi kelas. Ditambahkan lagi oleh Hadari Nawawi (1989:115)
dengan mengatakan bahwa kegiatan manajemen atau pengelolaan kelas dapat
diartikan sebagai kemampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi
kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal
untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah sehingga waktu dan
dana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efisien untuk melakukan
kegiatan-kegiatan kelas yang berkaitan dengan kurikulum dan perkembangan murid.
Suharsimi Arikunto (1988:67) juga berpendapat bahwa manajemen kelas adalah
suatu usaha yang dilakukan oleh penanggungjawab kegiatan belajar mengajar atau
yang membantu dengan maksud agar dicapai kondisi optimal sehingga dapat
terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan. Suharsimi memahami
manajemen atau pengelolaan kelas ini dari dua segi, yaitu pengelolaan yang
menyangkut siswa, dan pengelolaan fisik (ruangan, perabot, alat pelajaran).
Menurutnya membuka jendela agar udara segar dapat masuk keruangan atau agar
ruangan menjadi tenang, menyalakan lampu listrik, menggeser papan tulis,
mengatur meja merupakan kegiatan pengelolaan kelas fisik.
Menurut
Eggen & Kauchak (1997) manajemen kelas adalah kombinasi strategi guru dan
faktor organisasional kelas yang membentuk lingkungan belajar yang produktif,
yang mencakup rutinitas, aturan-aturan sekolah dan kelas, respon guru terhadap
perilaku siswa, strategi pembelajaran yang menciptakan iklim yang kondusif untuk
siswa belajar. Fungsi manajemen kelas dalam hal ini adalah:
1.
Perencanaan, yaitu menyangkut
keberlangsungan aktivitas dan bagaimana aktivitas tersebut dapat diorganisir
dengan cara terbaik.
2.
Komunikasi, yaitu menekankan perlunya
untuk mengatakan pada siswa apa yang diharapkan dari mereka, ini merupakan
unsur utama dalam manajemen yang efektif.
3.
Kontrol, yaitu mengekspresikan kebutuhan
menjaga iklim kelas yang kondusif untuk belajar.
2.2
Tujuan Manajemen Kelas
Suharsimi
Arikunto (1988:68) berpendapat bahwa tujuan manajemen kelas adalah agar setiap
anak dikelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan
pengajaran secara efektif dan efisien. Menurutnya, sebagai indikator dari
sebuah kelas yang tertib adalah apabila:
1.
Setiap anak terus bekerja, tidak macet,
artinya tidak ada anak yang terhenti karena tidak tau ada tugas yang harus
dilakukan atau tidak dapat melakukan tugas yang diberikan kepadanya.
2.
Setiap anak terus melakukan pekerjaan
tanpa membuang waktu, artinya setiap anak akan bekerja secepatnya supaya lekas
menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. Apabila ada anak yang walaupun
tau dan dapat melaksanakan tugasnya, tetapi mengerjakannya kurang bergairah dan
mengulur waktu bekerja, maka kelas tersebut diciptakan tidak tertib.
Jadi,
beda antara (1) dan (2) adalah pada (1) anak tidak tau akan tugas atau tidak
dapat melakukan tugas, dan pada (2) anak tau dan dapat, tetapi kurang bergairah
bekerja.
2.3
Strategi
Manajemen Kelas
Dalam
upaya menciptakan iklim kelas yang kondusif, dapat ditempuh dengan dua strategi
manajemen. Yaitu strategi pencegahan timbulnya masalah dan strategi pemecahan
masalah (Elliot dkk.,1996). Strategi pencegahan lebih menekankan pada upaya
timbulnya masalah perilaku siswa dengan menggunakan prosedur pembelajaran dan
manajemen, sedangkan strategi pemecahan masalah menekankan pada upaya mengatasi
masalah yang timbul dalam kelas. Menurut Elliot dkk., (1996) program manajemen
kelas yang komprehensif adalah yang memadukan kedua strategi itu. Strategi ini
dinamakan manajemen kelas proaktif yang mencakup tindakan aktif dalam merespon
masalah dan tindakan proaktif dalam merencakan tindakan yang produktif.
Ciri-cirinya yaitu:
1.
Lebih bersifat preventif ketimbang
reaktif.
2.
Mengintegrasikan metode-metode yang
memfasilitasi perilaku siswa yang sesuai prosedur peningkatan prestasi, dengan
menggunakan teknik pembelajaran yang efektif.
3.
Menekankan dimensi kelompok dari manajemen
kelas.
2.4
Keterampilan
Manajemen Kelas
Secara
umum, yang termasuk keterampilan manajemen dasar dalam praktik pembelajaran di
kelas adalah keterampilan mengorganisir dan memonitor aktivitas kelas.
Keterampilan membentuk kelompok, keterampilan menetapkan aturan dan prosedur,
dan keterampilan yang memberikan respon terhadap perilaku yang menyimpang.
Tahap
dalam manajemen kelas yang efektif adalah pengorganisasian aktivitas kelas. Ini
dilakukan untuk meyakinkan bahwa iklim kelas cukup kondusif untuk terjadinya
proses belajar. Menurut Laslett dan Smith (1984) mengidentifikasi empat
keterampilan pengorganisasian kelas, yaitu:
1.
Get
them in, yaitu keterampilan memulai pelajaran.
2.
Get
them out, yaitu keterampilan menyimpulkan dan mengakhiri
pelajaran.
3.
Get
on with it, yaitu berfokus pada isi pembelajaran dan
pengorganisasiannya.
4.
Get
on with them, yaitu menjalin hubungan yang positif
dengan siswa.
Menurut
Caroll (dalam Elliot dkk., 1996) mengemukakan sebuah model managemen kelas yang
menggunakan dua kategori analisis waktu yaitu:
1.
Penentuan yang diperlukan untuk belajar.
Ada tiga aspek penting dalam kategori ini adalah: (1) jumlah waktu yang
diperlukan siswa untuk mempelajari suatu pelajaran, (2) kemampuan memahami
pembelajaran yang dipengaruhi oleh tingkat intelegensi dan kemampuan verbal, (3)
kualitas pembelajaran yaitu kemampuan guru menyajikan pelajaran secara menarik
dan mudah dipahami.
2.
Pemanfaatan waktu belajar. Ada dua aspek
penting dalam kategori ini adalah: (1) waktu untuk belajar yaitu kesempatan
yang dimiliki oleh setiap siswa untuk belajar di sekolah, (2) ketekunan yaitu
jumlah waktu yang digunakan siswa untuk belajar.
Menurut Mulyasa (2005:91),
keterampilan mengelola kelas memiliki komponen sebagai berikut:
1. Penciptaan
dan pemeliharaan iklim pembelajaran yang optimal.
2. Keterampilan
yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal.
Pengajaran
kelompok kecil dan perorangan merupakan suatu bentuk pembelajaran yang
memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap peserta didik, dalam
menjalin hubungan yang lebih akrab antara guru dengan peserta didik maupun
antara peserta didik dengan peserta didik.
Keterampilan
mengajar kelompok kecil dan perorangan dapat dilakukan dengan:
1.
Mengembangkan keterampilan dalam
pengorganisasian dengan memberikan motivasi dan membuat variasi dalam pemberian
tugas.
2.
Membimbing dan memudahkan belajar, yang
mencakup pemuatan, proses awal, supervisi, dan interaksi pembelajaran.
3.
Perencanaan penggunaan ruangan.
4.
Pemberian tugas yang jelas, menantang,
dan menarik.
Khusus
dalam melakukan pembelajaran perorangan, perlu diperhatikan kemampuan dan
kematangan berfikir peserta didik, agar apa yang disampaikan bisa diserap dan
diterima oleh peserta didik.
2.5
Manager
Kelas yang Efektif
Manager
yang efektif awalnya tidak terlalu membebani siswa. Mereka dengan aturan-aturan
seperti yang cenderung dilakukan oleh banyak guru pemula, tetapi mulai dengan
aturan yang bersifat mendasar dan secara perlahan-lahan memperkenalkan aturan
lainnya sesuai aturan. Mereka juga secara periodik mengingatkan siswa tentang
aturan yang ada. Dengan cara memonitor siswa dari dekat, mereka mampu
memperingatkan dengan cepat bila terjadi pelanggaran dan berupaya
memperbaikinya sebelum pelanggaran kecil tersebut berkembang menjadi masalah
besar. Dengan memahami karakteristik siswa yang diajar, guru dpaat
mengantisipasi sumber potensi masalah dan merumuskan aturan yang akan membantu
mereka mencegahnya.
Emmer
dkk., (dalam Elliot dkk., 1996) mempelajari guru-guru SD yang dinilai sebagai
manager yang efektif dan menyatakan bahwa para guru tersebut memberitahukan
aturan dan prosedur mereka pada hari pertama pelajaran dimulai dan juga sengaja
mengintegrasikannya kedalam sistem pembelajaran mereka. Aturan mereka bersifat
eksplisit, konkret dan fungsional, dan guru tersebut memberikan mereka contoh
tanda yang mereka gunakan untuk berbagai aktivitas.
Menurut
Kounin (1970) ciri-ciri perilaku guru sebagai manajer kelas yang efektif
adalah:
1.
Adanya kesadaran, yaitu pengetahuan dan
pemahaman guru tentang apa yang terjadi di dalam kelas mereka. Guru tau apa
yang sedang berlangsung di dalam kelas, mereka tau bila ada perilaku yang
menyimpang dan seberapa parah penyimpangannya. Mereka juga tau kapan harus
memberikan intervensi sehingga perilaku itu tidak menyebar ke siswa lain dan
menjadi masalah yang serius.
2.
Kemampuan overlapping, yaitu kemampuan guru untuk menangani dua atau lebih
masalah yang terjadi secara simultan di dalam kelas.
3.
Kelancaran dalam melakukan transisi, yaitu
guru tidak memiliki kesulitan dalam menangani aktifitas di dalam kelas mereka.
Guru memulai pelajaran, menjaga keberlangsungannya, dan mengakhiri berbagai
aktivitas pembelajaran yang melibatkan banyak bahan pelajaran.
4.
Kesiapan kelompok, yaitu penggunaan
metode pembelajaran yang menjaga minat dan kontribusi hidup pada pelajaran.
Tidak dapat dielakkan bahwa dalam
situasi pembelajaran guru akan menghadapi berbagai keragaman. Keragaman itu
dapat meliputi keragaman latar budaya, ras, suku, agama, etnik, jenis kelamin,
tingkat ekonomi dan banyak hal lagi. Biasanya guru, karena pengalamanya mampu
beradaptasi terhadap hal-hal seperti itu. Ia dapat menyiasatinya, misalnya
dengan penerapan pembelajaran kelompok kecil dalam pembelajaran kooperatif (cooperative learing), dan bersikap adil
terhadap semua siswa. Namun, seringkali guru mengalami kesulitan jika keragaman
itu terkait dengan keragaman kemampuan siswa dalam belajar.
Dalam kaitan ini Menurut Donald P.
Kauchak (Rosyada, 2004:129) menyarankan agar manajemen atau pengelolaan kelas
oleh guru memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.
Ciptakan ruang kelas yang
multidimensional, dan juga buatlah rancangan proses pembelajaran yang
menggambarkan keragaman kemampuan belajar tersebut. Kelas multidimensional
bukan berkonotasi fisik, tetapi rancangan pembelajarannya. Program pembelajaran
yang sama, topik yang sama, dilaksanakan pada kelompok yang berbeda sesuai
dengan indeks kemampuan belajar mereka. Penugasan-penugasan dirancang bersifat
graduatif, sehingga baik kelompok yang berkemampuan tinggi maupun yag rendah
tidak dirugikan. Pada akhir pelajaran, setiap kelompok menyampaikan hasil
pelaksanaan tugasnya dalam sebuah kelompok besar yang konvergen yang merupakan
penggabungan dari berbagai kelompok.
2.
Buatlah rancangan waktu yang fleksibel
namun tetap dalam koridor satuan waktu yang ditetapkan kurikulum. Jika 1 jam
pelajaran 35 menit misalnya, rancanglah bahwa anak-anak yang berkemampuan
tinggi dapat menyelesaikannya dalam waktu yang lebih cepat, sementara siswa
dengan kemampuan rendah tetap dapat menyelesaikan tugas-tugasnya. Dalam hal ini
dapat diberikan pengayaan kepada siswa yang berkemampuan lebih tinggi.
3.
Kelompokkan siswa berdasarkan basis
kemampuannya (achievement group).
4.
Persiapkan strategi pembelajaran untuk
kelompok yang lamban dengan strategi yang tidak saja akan mengantarkan mereka
memahami tugas-tugasnya, tetapi juga akan mampu meningkatkan kemampuan belajar
mereka.
5.
Gunakan tutorial sebaya (peer teaching) dan belajar bersama untuk
menambah kemampuan dan pengalaman mereka masing-masing.
Dalam
kaitan ini apa yang digambarkan oleh Gary Flewelling dan William Higginson,
yang beraliran konstuktivis dalam publikasinya berjudul Teaching with Rich Learning Tasks (2003) dapat menjadi acuan yang
baik. Dalam publikasinya itu diungkapkan apa tugas guru dan siswa dalam kelas
yang dikelola dengan baik. Menurut kedua pakar tersebut dalam pengelolaan kelas
yang efektif, guru harus mempunyai tugas yang baik.
2.6
Masalah
Manajemen Kelas
Keanekamacaman
masalah perilaku siswa menimbulkan beberapa masalah pengelolaan kelas. Menurut
Made Pidata, masalah-masalah pengeloaan atau manajemen kelas yang berhubungan
dengan perilaku siswa adalah:
1.
Kurang kesatuan, dengan adanya
kelompok-kelompok dan pertentangan jenis kelamin.
2.
Tidak ada standar perilaku dalam bekerja
kelompok, misalnya ribut, bercakap-cakap, pergi kesana kemari, dan lain
sebagainya.
3.
Reaksi negatif terhadap anggota
kelompok. Misalnya ribut, bermusuhan, mengucilkan, merendahkan kelompok bodoh,
dan sebagainya.
4.
Kelas mentoleransi kekeliruan temannya,
yaitu menerima dan mendorong perilaku siswa yang keliru.
5.
Mudah mereaksi negatif atau terganggu.
Misalnya bila didatangi monitor, tamu-tamu, iklim yang berubah dan lain
sebagainya.
6.
Moral rendah, permusuhan, agresif.
Misalnya dalam lembaga dengan alat-alat belajar kurang, kekurangan uang, dan
sebagainya.
7.
Tidak mampu menyesuaikan dengan
lingkungan yang berubah. Seperti tugas-tugas tambahan, anggota kelas yang baru,
situasi baru, dan sebagainya.
Menurut Rudolf Dreikursh dan Pearl
Cassel membedakan Menurut kelompok masalah manajemen kelas individual yang
didasarkan asumsi bahwa semua tingkah laku individu merupakan upaya pencapaian
tujuan pemenuhan keputusan untuk diterima kelompok dan kebutuhan untuk mencapai
harga diri. Perbuatan-perbuatan untuk mencapai tujuan dengan cara yang asosial
inilah oleh pasangan penulis diatas digolongkan sebagai berikut:
1. Tingkah
laku yang ingin mendapatkan perhatian oranglain (Attention Getting Behaviours). Misalnya membadut dikelas (aktif),
atau dengan berbuat serba lamban sehingga perlu mendapat pertolongan ekstra
(pasif).
2. Tingkah
laku yang ingin menunjukkan kekuatan (Power
Seeking Behaviours). Misalnya
selalu mendebat atau kehilangan kendali emosional marah-marah, menangis (aktif)
atau selalu “lupa” pada aturan-aturan penting dikelas (pasif).
3. Tingkah
laku yang bertujuan menyakiti orang lain (Reverenge
Seeking Behaviours). Misalnya menyakiti oranglain seperti mengatai-ngatai,
memukul, menggigit, dan sebagainya (kelompok ini tampaknya kebanyakan dalam
bentuk aktif atau pasif).
4. Peragaan
ketidakmampuan yaitu dalam bentuk sama sekali menolak untuk mencoba melakukan
apapun karena yakin bahwa hanya kegagalanlah yang menjadi bagiannya .
Menurut
Drei Krush dan Kassel menyarankan sebagai berikut: apabila seorang guru merasa
terganggu oleh perbuatan seorang peserta didik, maka kemungkinan peserta didik
yang bersangkutan ada pada tahap Attention
getting. Bila guru merasa dikalahkan atau merasa terancam, maka kemungkinan
peserta didik yang bersangkutan ada pada tahap Power Sikking. Bila guru merasa tersinggung atau terluka hati, maka
kemungkinan pelakunya ada pada tahap Revenge
Sekking. Dan akhirnya bila guru benar-benar merasa tidak mampu berbuat apa-apa
lagi dalam menghadapi ulah peserta didik, maka kemungkinan yang dihadapinya
adalah perasaan ketidakmampuan.
Sedangkan
Menurut Loise V. Johnson dan Marry A.Banny mengemukakan empat kategori masalah
kelompok dalam pengelolaan kelas yaitu:
1.
Kelas kurang kohesif. Misalnya perbedaan
jenis kelamin, suku, dan tingkatan sosio ekonomi dan sebagainya.
2.
Kelas mereaksi negatif terhadap salah
seorang anggotanya misalnya mengejek anggota kelas yang dalam mengajar seni
suara menyanyi dengan suara sumbang.
3.
“Membesarkan hati anggota kelas yang
justru melanggar norma kelompok, misalnya pemberian semangat pada badut kelas.
4.
Kelompok cenderung mudah dialihkan
perhatiaanya dari tugsa yang tengah digarap
5.
Semangat kerja rendah,. Misalnya semacam
aksi protes kepada guru karena menganggap tugas yang diberikan kurang adil.
6.
Kelas kurang mampu menyesuaikan diri
dengan keadaan baru. Misalnya gangguan jadwal atau guru kelas terpaksa diganti
sementara oleh guru lain dan sebagainya.
2.7
Manajemen Penataan Kelas
Dalam prinsip penataan kelas, terdapat
empat prinsip dasar yang dapat digunakan untuk menata kelas antaralain (Evertson
Emmer dan Worsham, 2003):
1.
Kurangi kepadatan ditempat lalu lalang. Gangguan
dapat terjadi didaerah yang sering dilewati daerah ini antaralain, area-area
belajar kelompok, bangku murid, meja guru, dan lokasi penyimpanan pensil, rak
buku, komputer, dan lokasi lainnya. Pisahkan area ini sejauh mungkin dan dapat
diakses.
2.
Pastikan bahwa guru dapat dengan mudah
melihat semua murid. Tugas manajemen yang penting adalah memonitor murid secara
cermat untuk itu, guru harus bisa melihat semua murid, pastikan ada jarak
pandang yang jelas dari meja guru, lokasi instruksional, meja murid, dan semua
murid. Jangan sampai ada yang tidak kelihatan.
3.
Materi pengajaran dan perlengkapan murid
harus mudah diakses. Ini akan meminimalkan waktu persiapan, dan mengurangi
kelambatan dan gangguan aktivitas.
4.
Pastikan murid dapat mudah melihat semua
presentasi kelas. Tentukan dimana guru dan murid akan berada saat presentasi
kelas diadakan. Untuk aktivitas ini murid tidak boleh memindahkan kursi atau
menjulurkan lehernya. Untuk mengetahui seberapa baik dapat melihat dari tempat
mereka, duduklah dikursi mereka.
Dalam
memikirkan bagaimana seorang guru mengorganisasikan ruang fisik kelas, guru
harus bertanya kepada diri sendiri aktivitas pengajaran apa yang akan diterima
murid (seluruh kelas, kelompok kecil, tugas individual). Pertimbangkan penataan
fisik yang paling mendukung aktivitas itu (Crane, 2001; Fickes, 2001).
Penataan
kelas standar menunjukkan sejumlah gaya dalam penataan kelas, antaralain:
Auditorium, tatap muka, offset, seminar, klasster (Renne, 1997)
1.
Dalam gaya auditorim tradisional semua
murid duduk menghadap guru. Penataan ini membatasi kontak murid tatap muka dan
guru bebas bergerak kemana saja. Gaya auditorim sering dipakai ketika guru
mengajar atau seseorang memberi presentasi ke kelas.
2.
Dalam gaya tatap muka (face to face) murid saling menghadap.
Gangguan dari murid lain akan lebih besar pada susunan ini ketimbang pada
susunan auditorial.
3.
Dalam gaya offset, sejumlah murid
(biasanya tiga atau empat anak) duduk dibangku tetapi tidak duduk berhadapan
langsung satu sama lain. Gangguan dalam gaya ini lebih sedikit ketimbang gaya
tatap muka dan dapat efektif untuk kegiatan pembelajaran kooperatif.
4.
Dalam gaya seminar, sejumlah besar murid
(sepuluh atau lebih) duduk di susunan berbentuk lingkaran, atau persegi atau
bentuk U. Ini terutama efektif ketika guru ingin agar murid berbicara satu sama
lain atau bercakap-cakap dengan guru.
5.
Dalam gaya classter sejumlah murid
(biasanya empat sampai delapan anak) bekerja dalam kelompok kecil. Susunan ini
terutama efektif untuk aktivitas pembelajaran kolaboratif.
Menurut pakar manajemen kelas Carol
Weinstein dan Andrew Mignano (1997) kelas sering mirip sekali dengan kamar
motel nyaman tetapi inpersonal, tidak mengungkapkan apapun tentang orang yang
menggunakan ruang itu. Anonimitas semacam itu biasanya terjadi disekolah
menengah, dimana enam atau tujuh kelas mungkin menggunakan ruangan selama satu
hari. Untuk mempersonalisasikan kelas, pasang foto murid, karya seni, tugas,
diagram tanggal lahir murid (untuk murid SD), dan ekspresi murid lain yang
positif. Papan bulletin dapat disediakan untuk memajang nama “murid top minggu
ini” atau karya terbaik minggu ini yang dipilih sendiri oleh murid.
Selain itu, di dalam memanajemen
kelas, seorang guru harus menciptakan iklim positif di ruang kelas. Dasar dari sebuah iklim positif
adalah interaksi yang positif antara guru dan para siswa dan diantara sesama
siswa. Sebuah lingkungan positif mendorong para siswa menjadi begitu
bersemangat mengenai pengalaman sekolah mereka dan mengenai pemelajaran.
Seperti seluruh manusia lainnya,
anak-anak memiliki kebutuhan yang besar agar diterima dalam sebuah kelompok.
Anda bisa meningkatkan perasaan memiliki dengan sejumlah cara: (Erwin, 2003:
Evertson, 2007).
1. Bicaralah
dengan sopan dan tenang. Para siswa
harus mendengarkan para guru berkata “tolong”, “terima kasih”, dan “permisi”.
Kesopanan ini begitu diharapkan dan dicontohkan oleh para siswa. Sebuah suara
yang tenang mengindikasikan penerimaan dan pengendalian diri. Jika anak-anak
merasa terancam atau frustasi, maka mengetahui bahwa sang guru tidak marah akan
memberikan perasaan tenang.
2. Berbagi
informasi. Ingatlah nama setiap siswa secepat mungkin dan terlibatlah dalam
kegiatan yang membantu para siswa mempelajari lebih banyak satu sama lain.
Perkenalkan diri anda dan berbagi lah tentang minat anda. Berbicaralah secara
personal dengan para siswa anda untuk mengetahui mereka secara individual.
3. Gunakan
pernyataan positif sesering mungkin. Sering kali prilaku negatif lebih
diperhatikan ketimbang yang positif; oleh karena itu, kita cenderung lebih
sering berkomentar tentang perilaku negatif. Mungkinkita juga merasa terdorong
untuk menyebutkan perilaku negatif karena kita meyakini bahwa tindakan tersebut
akan memperbaiki perilaku para siswa. Kenyataan, yang terjadi adalah
kebalikannya. Pernyataan negatif tidak hanya menjadikan siswa tersebut merasa
negatif tetapi juga cenderung menciptakan lingkungan negatif yang memengaruhi
semua orang.
4. Menciptakan
suatu perasaan komunitas. Ajarkan
para siswa untuk bekerja secara kooperatif dan berikan mereka banyak kesempatan
untuk belajar dalam kegiatan kooperatif yang terstruktur. Laksanakan pertemuan
kelas secara teratur untuk pembangunan kelas, penyelesaian masalah, dan diskusi
yang terkait dengan konten. Salah satu dari pertemuan pertama anda dapat berupa
penciptaan aturan dan prosedur kelas.
Sementara membangun sebuah hubungan
positif dengan para siswa individual dianggap sebagai salah satu predikator
paling penting bagi keberhasilan siswa, memahami konsep kewenangan juga sama
pentingnya bagi kesehatan komunitas. Agar merasa aman, anak-anak harus
mengetahui bahwa terdapat sebuah sumber kewenangan di dalam ruang kelas (
Brophy, 2004; Hoy & Weinstein, 2006). Kekuasaan otoritas biasanya terletak
pada guru, tetapi bagaimana kekuasaan tersebut digunakan merupakan sebuah
pengaruh kritis dalam komunitas pemelajaran.
Dari uraian diatas, Menurut John
W.Santrong (2011:565) Tips-tips dalam manajemen penataan kelas antaralain:
1. Pastikan
area kelas didefinisikan dengan baik.
2. Tata
jalan tempat lalulalang dan tempat penyimpanan.
3. Perabot
yang bersih dan aman adalah keharusan.
4. Menata
ulang kelas adalah sesuatu yang menyegarkan. Cari sudut pandang yang berbeda
untuk menempatkan orang dan barang.
5. Materi
harus disimpan ditempat yang sama sepanjang tahun ajaran.
6. Kelas
harus terang dan menyenangkan dengan banyak materi dan kenangan sekolah yang
bisa dibaca dan dilihat murid.
7. Lihat
apa yang dilakukan guru lain.
8. Tempatkan
komputer ditempat yang tidak akan mengganggu murid.
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Manajemen
kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggungjawab kegiatan belajar
mengajar atau yang membantu dengan maksud agar dicapai kondisi optimal sehingga
dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan. Tujuan manajemen
kelas adalah agar setiap anak dikelas dapat bekerja dengan tertib sehingga
segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Dengan adanya
manajemen kelas diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaan dikelas
karena situasi dan kondisi kelas yang memungkinkan peserta didik untuk
mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
3.2
Saran
Dengan melihat perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang semakin maju, dimasa yang akan datang diharapkan
sistem manajemen kelas agar lebih ditingkatkan lagi. Perkembangan pembelajaran
di dunia global semakin pesat, oleh karena itu guru kelas diwajibkan untuk
memiliki kompetensi khusus dalam mengelola kelas agar terciptanya suasana
belajar yang menyenangkan, efektif, serta efisien sehingga dalam tujuan
pembelajaran dapat terlaksana dengan baik dan optimal.
DAFTAR
PUSTAKA
Djamarah, Syaiful Bahri. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT.
Rineka Cipta.
Evertson, M. Carolyn. 2011. Manajemen Kelas Untuk Guru Sekolah Dasar.
Jakarta: Kencana.
Khodijah,
Nyanyu. 2014. Psikologi Pendidikan.
Jakarta: PT. Raja Grapindo Persada.
Mulyasa.
2005. Menjadi Guru Professional
Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Rohani, Ahmad. 2004. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: PT.
Rineka Cipta.
Santrock, John W. 2011. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana.
Suyono.
2011. Belajar dan Pembelajaran: Teori dan
Konsep Dasar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar